Adaptasi Organisme Terhadap Lingkungan

Lingkungan merupakan kumpulan komponen abiotik dan biotik di luar suatu organisme yang mensugesti kehidupan organisme tersebut. Lingkungan meliputi lingkungan perairan (hidrosfer), daratan (litosfer),dan udara (atmosfer). Lingkungan tempat hidup suatu organisme disebut habitat. Setiap organisme memiliki habitat yang khas. Ikan mas, mujair, dan lele memiliki habitat di air tawar ibarat bak atau sungai. Tumbuhan kaktus dan kurma memiliki habitat di tanah yang sedikit air ibarat gurun pasir. Lingkungan senantiasa berubah karena pengaruh suhu, kelembapan, intensitas cahaya, dan air. Perubahan lingkungan akan mengubah sifat habitat. Perubahan sifat habitat mensugesti kondisi organisme. 
Kemampuan menyesuaikan diri sangat diharapkan untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya. Bila suatu jenis organisme tidak bisa beradaptasi, maka jenis organisme itu akan punah. Contohnya yaitu dinosaurus yang telah punah karena tidak dapat menyesuaikan dengan perubahan lingkungan di bumi.

Dinosaurus 

Adaptasi yaitu kemampuan organisme untuk menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungan sehingga bisa mempertahankan kelangsungan hidupnya. Semakin tinggi kemampuan pembiasaan suatu jenis organisme, maka semakin besar pula kemungkinan kelangsungan hidup jenis organisme tersebut. Ada tiga cara adaptasi, yaitu pembiasaan morfologi, pembiasaan fisiologi, dan pembiasaan tingkah laku.
1. Adaptasi Morfologi
Adaptasi morfologi yaitu penyesuaian bentuk dan struktur tubuh suatu organisme terhadap lingkungannya. Tumbuhan dan hewan menyebarkan pembiasaan morfologi yang berbeda untuk menyesuaikan dengan keadaan lingkungan.
a. Adaptasi Morfologi pada Tumbuhan
Tumbuhan tidak dapat berpindah-pindah, sehingga menyebarkan bentuk yang paling efisien untuk memenuhi kebutuhan dan mempertahankan hidup.Contohnya tumbuhan yang ada di dalam hutan biasanya tinggi, cabang dan daun mengarah ke atas untuk mendapat sinar matahari. Sedangkan tumbuhan di tepi hutan biasanya pohonnya lebih rendah, cabang dan daun mengarah ke samping untuk menerima cahaya matahari. Ciri khas tumbuhan di dalam hutan dan di tepi hutan itu menggambarkan kemampuan tumbuhan menyesuaikan diri di habitatnya.

Pepohonan Menjulang Tinggi di Hutan

Berikut ini beberapa cara pembiasaan tumbuhan dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya.
1) Tumbuhan Xerofit
Tumbuhan xerofit memiliki struktur fisik yang sesuai untuk bertahan hidup pada suhu yang ekstrim panas dan kekurangan air. Contohnya yaitu kaktus dan sukulen. Kaktus dapat bertahan hidup dalam kondisi kering. Bentuk adaptasinya yaitu daun tidak berbentuk lembaran sebagaimana tumbuhan lainnya, tetapi mengalami modifikasi menjadi duri atau sisik. Kaktus bisa menyimpan air pada batangnya. Seluruh permukaannya dilapisi oleh lilin untuk mengurangi penguapan. Sistem perakarannya panjang untuk mencapai tempat yang jauh yang mengandung air.
2) Tumbuhan Hidrofit
Tumbuhan hidrofit yaitu tumbuhan yang hidup di air. Adaptasi morfologi yang dilakukan antara lain memiliki rongga udara di antara sel-sel tubuhnya sehingga dapat mengapung. Daunnya lebar dan stomata terletak di permukaan atas. Contoh tumbuhan hidrofit yaitu kangkung, eceng gondok, dan teratai.
3) Tumbuhan Higrofit
Tumbuhan higrofit yaitu tumbuhan yang hidup di lingkungan lembab dan basah. Adaptasinya yaitu
mempunyai daun yang tipis dan lebar.
b. Adaptasi Morfologi pada Hewan
Meskipun hewan dapat bergerak bebas, hewan juga melaksanakan beragam pembiasaan morfologi untuk menyesuaikan dengan tempat hidup dan jenis makanannya. Adaptasi morfologi berupa penyesuaian tubuh hewan ibarat ukuran dan bentuk gigi, penutup tubuh, dan alat gerak hewan. Gigi diadaptasi dengan jenis makanannya, sehingga gigi hewan pemakan daging berbeda dengan hewan pemakan tumbuhan. Penutup tubuh ibarat rambut, duri, sisik, dan bulu yang tumbuh dari kulit diadaptasi dengan kondisi lingkungannya sehingga dapat membantu hewan untuk tetap bertahan hidup. Contoh yang lain yaitu variasi tulang belakang dan sirip pada ikan pari disebabkan perbedaan suhu dikala pertumbuhannya, jenis kelamin kura-kura ditentukan oleh variasi temperatur dikala inkubasi (pengeraman), serta bentuk paruh dan kaki burung bervariasi sesuai dengan jenis makanan dan habitatnya.

2. Adaptasi Fisiologi
Adaptasi fisiologi yaitu pembiasaan pada fungsi kerja alat-alat tubuh untuk menyesuaikan dengan keadaan lingkungan. Contohnya jumlah denyut jantung per menit akan meningkat dikala kau berlari. Contoh pembiasaan fisiologi yang lain yaitu sebagai berikut.
  • Saat udara dingin, hewan berdarah panas akan meningkatkan proses metabolismenya sehingga suhu tubuh tetap tinggi. Hal ini akan membuatnya sering merasa lapar.
  • Jumlah sel darah merah orang yang hidup di daerah pantai lebih sedikit dibandingkan orang yang tinggal di daerah pegunungan. Hal ini disebabkan karena tekanan parsial oksigen di daerah pantai lebih besar dibandingkan daerah pegunungan. Jika tekanan parsial oksigen rendah, maka dibutuhkan lebih banyak sel darah merah untuk mengikat oksigen. Tahukah kau yang dimaksud tekanan parsial oksigen? Tekanan parsial oksigen yaitu perbandingan kadar oksigen di udara dibandingkan dengan kadar gas lain di udara.
  • Kekebalan serangga terhadap insektisida akan meningkat (menjadi kebal) karena penggunaan insektisida secara terus-menerus.
  • Ikan yang hidup di laut lebih sedikit mengeluarkan urin dibandingkan dengan ikan yang hidup di air tawar. Air laut lebih banyak mengandung garam. Kadar garam yang tinggi juga mengakibatkan cairan tubuh keluar terus menerus. Garam juga masuk ke dalam tubuh dan harus dikeluarkan. Untuk menyesuaikan diri, ikan banyak meminum air laut dan sedikit mengeluarkan urin. Coba bandingkan apabila kau makan makanan yang asin, tentu kau mudah merasa haus dan ingin minum banyak air.
3. Adaptasi Tingkah Laku
Adaptasi tingkah laku merupakan acara atau tingkah laku hewan yang menyesuaikan dengan kondisi lingkungan untuk membantunya bertahan hidup. Adaptasi tingkah laku dapat berupa hasil berguru maupun insting/naluri semenjak lahir. Terdapat dua macam tingkah laku, yaitu sebagai berikut.
a. Tingkah laku sosial, untuk hewan yang hidup berkelompok.
b. Tingkah laku untuk perlindungan.

Bunglon
Contohnya babi hutan akan menggali lubang persembunyian dengan kukunya ketika melihat singa, trenggiling akan menggulung tubuhnya kalau bertemu musuh. Contoh lain yaitu kamuflase, misalnya pada bunglon dan gurita. Mimikri yaitu kemampuan untuk menggandakan bentuk, suara, dan tingkah laku ibarat hewan lain sehingga akan dikira predator atau hewan yang beracun atau berbahaya. Migrasi juga merupakan bentuk pembiasaan tingkah laku dengan cara bergerak dari satu daerah ke daerah lain dan kemudian kembali lagi. Hewan bermigrasi dengan banyak sekali alasan antara lain memperoleh iklim yang baik, makanan yang cukup, tempat yang lebih aman, dan kepentingan perkembangbiakan.
Hewan yang hidup di daerah kutub atau daerah yang mengalami pergantian empat animo yang perbedaan suhunya ekstrim, biasanya melaksanakan hibernasi. Hibernasi yaitu tidur dalam jangka waktu yang lama ketika suhu lingkungan rendah. Aktivitas tubuh ibarat denyut jantung dan napas sangat pelan sehingga hanya memerlukan energi/makanan yang sedikit. Contohnya kelelawar, ular, dan beruang kutub. Selama hibernasi hewan menggunakan lemak dalam tubuh sebagai sumber energi.