Banjir Air Mata si Lancang


Alkisah tersebutlah sebuah cerita, di Kampar zaman dahulu kala tinggallah si Lancang bersama ibunya dalam keadaan sangat miskin. la sudah tidak memiliki ayah lagi, hidup mengharapkan dari penghasilan seorang ibu mengambil upah mengerjakan ladang orang. 
Si Lancang sendiri tukang usir ayam makanan padi tetangganya. Suatu malam di surau pengajian, berceritalah guru mengaji kepada para muridnya: “… orang rajin sembahyang ke mana pun merantau, berbekal sifat jujur dan cendekia membawa diri selalu berhasil menjadi saudagar kaya-raya ….”
Kata sang guru itu lagi, “Hiu beli belanak beli, ikan panjang beli dahulu.” Ajar dia pula selanjutnya, “Kalau cendekia berkain panjang, lebih baik daripada berkain sarung. Kalaulah cendekia berinduk semang, lebih baik daripada saudara kandung.
“Termakanlah pikiran si Lancang ingin merantau menyerupai pengaran sang guru itu, dan ia pun bermohon minta keizinan ibunya.
“Kalaulah engkau ingin juga pergi merantau, anakku Lancang, setuju Ibu izinkan,” kata ibunya. “Tetapi ibu berpesan, jikalau sudah di rantau orang kelak, selalulah engkau kenangkan ibumu yang di rumah. Pulang segera, bila rezeki sudah didapati, sekerat-sepotong pun ingin juga ibu rasai.”
“Baiklah Emak, Lancang turut kehendak Emak,” kata si Lancang seraya menyembah lutut ibunya untuk minta berkah. Ibunya pun sujud menyerahkan bungkusan lamping dodak, sejenis kudapan manis kegemaran si Lancang semasa kecil untuk dijadikan bekal dalam perjalanan jauh itu.
Konon, setelah bertahun-tahun berusaha di rantau orang, berhasillah si Lancang menjadi saudagar cukup ternama. Berpuluh-puluh buah kapal dagang dapat dibelinya. Seimbang dengan kekayaan yang dimilikinya pula, ia pun beristri tujuh orang gadis jelita anak orangorang kaya.
Ibu si Lancang di kampung, sebagaimana diceritakan yang empunya cerita, cukuplah menderita lahir batin. Dalam hidup miskin di hari tua, siang-malam rindukan si Lancang sudah lima belas tahun tidak pulang-pulang ke kampung. Jangankan pulang, kabar beritanya pun tidak pernah terdengar entah hidup entah matinya.
Pada suatu saat si Lancang mengumpulkan ketujuh orang istrinya, hendak dibawanya berlayar ke Andalas. Apa pun perbekalan yang diminta para istri tercinta dipenuhinya, menyerupai alat musik gung, tamburin, suling nafiri, gendang dan telempong. Sementara itu, kain kasa sutra, aneka hiasan emas-perak dan intan berlian, juga dipersiapkan.
Betapa gegap-gempita bunyinya orang beregung bercanang dan bertelompong serta tiupan serunai-nafiri, riuh-rendah di geladak kapal si Lancang tatkala mudik ke Sungai Kampar daerah kelahirannya di Andalas bab timur itu.