Kanker Payudara


Kanker payudara merupakan duduk perkara yang besar, di Indonesia maupun di negara lain. Di Amerika Serikat, diperkirakan jumlah kasus gres pada tahun 2003 akan mencapai 211.300 orang dan 39.800 pasien meninggal akhir kanker payudara pada tahun yang sama. Di Indonesia kanker payudara berada di urutan kedua sebagai kanker yang paling sering ditemukan pada perempuan, setelah kanker verbal rahim. Penelitian di Jakarta Breast Center pada April 2001 hingga dengan April 2003 menyampaikan bahwa 2.834 orang yang memeriksakan benjolan di payudaranya, 368 orang (13%) terdiagnosa kanker payudara.
Kanker payudara yakni tumor ganas yang berasal dari sel payudara. Selnya berkembang tanpa kontrol, melebihi perkembangan sel normal dan menyebar ke jaringan organ lain. Tidak semua benjolan di payudara merupakan kanker, kebanyakan bersifat jinak. Penelitian di Jakarta Breast Center menyampaikan dari 2.834 orang yang memeriksakan benjolan di payudaranya, 2.229 di antaranya (78,6%) merupakan tumor jinak (fibrocystic disease of the breast, fibroadenoma mamae, cysta, lymphoma, mammari displasia), 368 orang (13%) terdiagnosa kanker payudara, dan sisanya merupakan infeksi (abses) dan kelainan bawaan payudara (mammaria aberans). Faktor risiko:

Jenis kelamin wanita. 
  • Usia. Angka kejadian kanker payudara meningkat seiring dengan bertambahnya usia. Pada usia 30–40 tahun kemungkinan terkena kanker payudara yakni 1 di antara 252 orang, pada usia 40–50 tahun angka itu meningkat menjadi 1 di antara 68 orang, pada usia 50–60 tahun menjadi 1 di antara 35 orang, dan pada usia 60–70 tahun 1 di antara 27 orang. 
  • Riwayat tumor atau kanker payudara sebelumnya. 
  • Menstruasi pertama pada atau di bawah usia 11 tahun. 
  • Menopause terlambat. 
  • Belum pernah melahirkan dan tidak menyusui. 
Kanker bukan penyakit yang menular ataupun menurun. Sebagian kecil (5–10%) kanker payudara berasal dari kalangan keluarga risiko tinggi kanker payudara. Untuk 5–10% kanker payudara yang terkait dengan keturunan tersebut, faktor genetik memegang peranan penting. Mutasi dua gen tertentu yang dinamakan gen BRCA 1 dan BRCA 2 ternyata mempunyai kekerabatan bersahabat dengan risiko kanker payudara, kanker indung telur, atau keduanya. Artinya, sebagian besar (50–85%) wanita dengan mutasi gen BRCA 1 atau BRCA 2 akan sakit kanker payudara di kemudian hari. Kanker payudara dapat ditemukan secara dini dengan pemeriksaan sadari, pemeriksaan klinik, dan pemeriksaan mamografi. Deteksi dini dapat menekan angka simpulan hidup sebesar 25–30%.

Pemeriksaan Sadari (Periksa Payudara Sendiri atau Breast Self Examination). Semua wanita di atas usia 20 tahun sebaiknya melaksanakan sadari setiap bulan dan segera periksakan diri ke dokter jika ditemukan benjolan. 

Pemeriksaan Klinik. Pada usia 20–39 tahun setiap wanita sebaiknya memeriksakan payudaranya ke dokter tiap 3 tahun sekali. Pada usia 40 tahun ke atas sebaiknya dilakukan tiap tahun. 

Pemeriksaan Mamografi. Mamografi yakni pemeriksaan sinar–X terhadap payudara. Skrining kanker payudara dengan mamografi dianjurkan untuk perempuan berusia lebih dari 40 tahun dengan risiko standar. Untuk wanita dengan risiko tinggi (khususnya dengan mutasi gen tersebut di atas) mamografi sebaiknya dimulai pada usia 25 tahun atau pada usia 5 tahun lebih muda dari anggota keluarganya yang termuda yang mempunyai riwayat kanker payudara. Misalnya ada kakaknya menderita kanker pada usia 26 tahun, maka adiknya sebaiknya memulai pemeriksaan mamografi pada usia 21 tahun.