Mata pun Dapat Terserang Stroke


Stroke tidak hanya terjadi pada otak. Hal yang sama dapat terjadi pada mata. Stroke pada otak terjadi alasannya adanya sumbatan pembuluh darah otak yang menyebabkan kelumpuhan sebagian anggota tubuh. Adapun stroke terjadi alasannya adanya hambatan suplai darah ke saraf mata.
Ini berarti bahwa stroke terjadi tanggapan adanya sumbatan mendadak pada pembuluh darah arteri dan vena. Selain itu juga terjadi gangguan ajaran darah mendadak pada lapisan dalam retina. Sumbatan tersebut biasanya datang secara mendadak dan ditandai dengan adanya gangguan penglihatan yang sifatnya tiba-tiba. Penglihatan mendadak menjadi kabur (buram). Sumbatan arteri retina dapat terjadi pada arteri pusat. Sumbatan arteri retina dapat juga terjadi pada arteri cabang.



Pada umumnya, sumbatan arteri retina sentra akan menimbulkan dampak yang buruk pada penglihatan penderita. Ini berbeda dengan sumbatan arteri retina cabang yang masih ada kemungkinan membaik.
Seperti dituturkan dr. Djatikusumo, Sp. M., ada stroke mata yang masih dapat disembuhkan, tapi ada pula yang sulit disembuhkan atau diselamatkan. Kebutaan pun tidak terhindarkan. Dia yaitu seorang mahir mata dari Departemen Mata Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) dan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI). Mengingat tanggapan yang dapat sangat serius, stroke mata tidak dapat dianggap remeh. Penanganan yang sangat cepat sangat diperlukan. Jadi, begitu terjadi gejala awal berupa penglihatan mendadak buram, penderita harus secepatnya memeriksakan diri ke dokter untuk menerima perlindungan medis.
Penanganan yang cepat ini perlu mendapat perhatian. Sebab, keterlambatan penanganan dapat berakibat fatal. Kurang dari satu jam, masih dapat dilakukan sesuatu. Akan tetapi lewat dari satu jam, saraf mata sudah mati. Karena itulah, sumbatan arteri retina tergolong kasus gawat darurat yang perlu penanganan segera. Selain dapat berakibat fatal, penderita sumbatan arteri retina ini juga berisiko terkena penyakit kardioveskuler.
Penanganan medis yang dilakukan dokter terhadap penderita stroke mata bertujuan untuk membatasi perluasan kerusakan retina. Penanganan ini juga untuk membatasi penurunan tajam penglihatan secara permanen yang dapat menimbulkan kebutaan. Penanganan medis juga bertujuan mencegah komplikasi, ibarat terjadinya glaukoma neovaskuler dan sumbatan pada organ lain.

Pencetus
Di dunia medis, bergotong-royong tidak dikenal istilah stroke mata. Istilah ini hanya di Indonesia semoga mudah disosialisasikan kepada masyarakat. Penamaan itu, boleh jadi, alasannya proses terjadinya stroke mata hampir sama dengan stroke yang dialami atau terjadi pada otak.
Ada beberapa faktor penyebab terjadinya stroke mata, antara lain: penderita mengalami tekanan darah tinggi, kencing manis (diabetes melitus), kadar kolesterol tinggi, penyakit katup jantung, kelainan darah (gangguan pembekuan), dan penyakit kolagen. Merokok, obesitas (kegemukan), dan kurang berolahraga juga dapat menjadi faktor penyebab stroke mata.
Stroke mata umumnya dialami oleh orang yang sudah lanjut usia, terutama di atas usia 60 tahun. Walau begitu, bukan berarti kelompok usia muda luput dari bahaya stroke mata. Penyakit lupus dan gangguan kekentalan darah dapat meningkatkan risiko orang-orang berusia muda terserang stroke mata.
Pencegahan
Jika punya kemauan dan disiplin kuat, sejatinya tidak sulit mencegah stroke mata. Caranya yaitu dengan menerapkan contoh hidup sehat. Konsumsilah makanan sehat, makan teratur, serta membiasakan diri menjaga kebugaran badan dengan berolahraga secara teratur.
Selain itu, sedapat mungkin menghindari penyakit atau kondisi yang menjadi faktor penyebab terjadinya stroke mata, ibarat hipertensis, kencing manis, dan obesitas. “Jika terlanjur terserang penyakit-penyakit yang menjadi faktor penyebab semisal kencing manis, usahakan untuk mengendalikannya.”
Jika Anda seorang perokok, sebaiknya segera hentikan kebiasaan buruk ini. “Bagi para perokok, penyebab stroke mata bukan dari asap rokok yang mengenai mata, tapi dari asap rokok yang diisap masuk ke dalam tubuh.”